Genre Sastra Modern

 GENRE SASTRA MODERN

A.Genre sastra modern

   Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum, atau kategori pengelompokan karya sastra yang biasanya berdasarkan style, bentuk, atau isi. Istilah genre perlu diterapkan untuk pembagian jenis secara historis menjadi tragedy dan komedi. Plato dan aristoteles telah membagi ketiga kategori modern menurut “cara menirukan” (atau mewujudkan): puisi lirik adalah pesona penyair seendiri, dalam puisi epik (atau novel) pengarang berbicara sebagai dirinya sendiri, sebagai narator, dan membuat para tokohnya berbicara dalam wacana langsung (naratif campuran), sedangkan dalam drama, pengarang menghilang dibalik tokoh-tokohnya. Genre harus dilihat sebagai pengelompokan karya sastra, yang secara teoretis didasarkan pada bentuk luar (mantra atau struktur terrtentu) dan pada bentuk dalam (sikap, nada, tujuan, dan yang lebih kasar, isi, dan khayalak pembaca). Kita mungkin cenderung untuk tidak melanjutkan sejarah genre setelah abad ke-18, karena setelah abad ke-18, orang tidak mengharapkan lagi bahwa puisi di buat dengan struktur pola yang berulang.

 

B.Karakteristik Sastra Modern

Ciri-ciri sastra modern antara lain :

1).Tidak terikat oleh adat istiadat atau lebih fleksibel.

Genre sastra modern tidaklah terikat dengan adat istiadat dimana benar benar membuat genre sastra nya sendiri yang berbeda dari yang lama , menciptakan genre yang lebih bebas dan terkadang tak terpaku dalam suatu aturan.

2).Tema ceritanya rasional.

Jika dibandingkan dengan sastra yang lama sastra modern lebih memiliki cerita yang masuk akan , seperti yang benar benar terjadi pada kenyataan kehidupan manusia , tidak seperti sastra tradisional yang terkadang membawa unsur ghoib dan lain lain.

3).Proses perkembangannya dinamis.

yaitu melalui media cetak dan audiovisual Dalam perkembangan sastra modern lebih cepat dan teratur , dimana untuk masa sekarang ini sudah memiliki banyak sekali teknologi yang memudahkan seseorang melihat dan menikmati sastra.

4).Tidak terikat dengan kaidah buku dan menggunakan bahasa yang lebih bebas.    

Dalam sastra modern benar benar sudah bebas tanpa ada ikatan dan kekangan, sastra modern menciptakan sebuah ladang bagi sastrawan agar lebih bebas dalam penyampaian perasaan tanpa perlu dibatasi dengan kaidah atau peraturan.

5).Mencantumkan nama pengarangnya.

Pada sastra lama ada beberapa karya yang bahkan tidak diketahui diciptakan oleh siapa, karena berkeinginan menciptakan privasi ataupun alasan lain, dalam sastra modern harus disertakan dengan nama pengarang agar sang penciptanya bisa diakui dan dihargai dimanapun.

6).Berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat.

Tak sedikit dari karya sastra yang menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada kehidupan nyata, karena sastra modern yang lebih realis dan logis membuat banyak pengarang yang menghubungkan dengan kondisi asli masyarakat, dimana dengan tujuan menunjukkan kondisi sosial ataupun berniat untuk mengkritik pemerintahan.

 

C.Pembagian Genre Sastra Modern berdasarkan berbagai pendapat pakar Sastra.

•Teeuw (1984: 110-113) juga mencatat pendapat beberapa pakar yang mempermasalahkan dinamika jenis sastra, sebagai berikut :

-Menurut Culler, pada asasnya fungsi konvensi jenis sastra ialah mengadakan perjanjian antara penulis dan pembaca, agar terpenuhi harapan tertentu yang relevan, dan dengan demikian dimungkinkan sekaligus penyesuaian dengan dan penyimpangan dari ragam keterpahaman yang telah diterima.

-Menurut Todorov, batasan jenis sastra oleh karena itu merupakan suatu kian kemari yang terus menerus antara deskripsi fakta-fakta dan abstraksi teori. setiap karya agung, perdefinisi, menciptakan jenis sastranya sendiri. Setiap karya agung menetapkan terwujudnya dua jenis, kenyataan dan norma, norma jenis yang dilampauinya yang menguasai sastra sebelumnya, dan norma jenis yang diciptakannya.

-Menurut Claudio Guillen, jenis sastra adalah undangan atau tantangan untuk melahirkan wujud. Konsep jenis memandang ke depan dan ke belakang sekaligus. Ke belakang ke karya sastra yang sudah ada dan ke depan ke calon penulis.

-Demikian juga menurut Hans Robert Jausz, bahwa jenis sastra per definisi tidak bisa hidup untuk selamanya, karya agung justru melampaui batas konvensi yang berlaku dan membuka kemungkinan baru untuk perkembangan jenis sastra. Jenis sastra bukanlah sistem yang beku, kaku, tetapi berubah terus, luwes dan lincah. Peneliti sastra harus mengikuti perkembangan itu dalam penelitiannya. Teeuw menambahkan bahwa dalam penelitian sistem jenis sastra, tidak ada garis pemisah yang jelas antara pendekatan diakronik dan sinkronik: karya sastra selalu berada dalam ketegangan dengan karya-karya yang diciptakan sebelumnya.

 

D.Contoh Contoh Teks Sastra Modern

   1. Puisi adalah, karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna.

   2. Drama adalah, karangan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia dalam bertingkah laku yang dipentaskan dalam beberapa babak. Seni drama sering disebut seni teater.

   3. Cerpen adalah, karangan pendek berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh, baik yang mengharukan, menyedihkan. menggembirakan, atau berupa pertikaian dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.


E. Situasi Bahasa Genre Sastra Modern

    Dalam masyarakat modern sastra makin dilepaskan dari situasi komunikasi yang normal. Sastra menjadi urusan si pembaca secara sangat individual; buku adalah sesuatu yang dibaca, dinikmati, dinilai sendiri saja. Sastra adalah tulisan, ecriture, perkembangan sastra modern sangat dipengaruhi oleh perkembangan melek huruf. Obiechina, seorang ahli sastra Afrika Barat dalam analisa roman-roman Afrika Barat memberikan kupasan yang sangat baik tentang pengaruh melek huruf atas perkembangan novel sebagai jenis sastra. “The novel is meant to be read by the individual in quiet isolationand complex narrative is more easily sustained and followed by reading it than by hearing it” (Obiechina, 1975:3) “The literate tradition … is more elaborative, exploratory and experimental than the oral tradition and leads to greater diversity of beliefs, sentiments and attitudes” (idem :33) .

 

Komentar